Feeds RSS

Sabtu, 24 Oktober 2015

pengantar sistem informasi psikologi



1.  Pengantar sistem informasi psikologi.
Pengertian sistem
Sistem berasal dari bahasa Latin (systema) dan bahasa Yunani (sustema) yang diartikan sebagai suatu kesatuan yang terdiri dari komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi, atau energi.Beberapa ahli juga coba mendefinisikan sistem, yaitu salah satunya menurut Al Fatta (2007) mendefinisikan sistem sebagai suatu kumpulan atau himpunan dari unsur atau variabel-variabel yang saling tergorganisasi, saling berinteraksi, dan saling bergantung sama lain.
Pengertian informasi
Kata informasi berasal dari bahasa Prancis kuno (informacion) yang juga diambil dari bahasa Latin (informationem) yang memiliki arti garis besar, konsep, atau ide. Informasi merupakan kata benda dari informare yang berarti aktivitas dalam pengetahuan yang dikomunikasikan. Definisi informasi adalah pesan (ucapan atau ekspresi) atau kumpulan pesan yang terdiri dari order sekuens dari simbol, atau makna yang dapat ditafsirkan dari pesan atau kumpulan pesan. Sedangkan informasi menurut salah satu ahli yaitu Mc Leod (dalam Al Fatta, 2007) mengatakan bahwa informasi adalah data yang telah diproses atau data yang memiliki arti.
Pengertian psikologi
Psikologi berasal dari bahasa Yunani yaitu “psyche” yang artinya jiwa, dan “logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologis (arti kata) psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya, maupun latar belakangnya. Dengan singkat disebut ilmu jiwa. Sedangkan Menurut d. Allport, psikologi adalah satu upaya untuk memahami dan menjelaskan bagaimana pikiran, perasaan, dan perilaku individu yang dipengaruhi oleh kehadiran orang lain secara aktual, dibayangkan, atau hadir secara tidak langsung.


Ø  Jadi sistem informasi psikologi adalah suatu sistem yang merupakan gabungan atau kombinasi dari manusia, media, dan teknologi, serta lingkungan yang bertujuan untuk mengumpulkan, mengolah, dan menyimpan data mengenai perilaku atau tingkah laku manusia.
Contoh kasus:
Saya pernah mencoba mengikuti test psikologi sederhana di social media dan di test tersebut terdapat beberapa soal dengan pilihan ganda sebagai jawabannya. Setelah saya ikuti lebih lanjut, dapat diketahui soal-soal tersebut merupakan salah satu dari test proyektif yaitu test HTP (house tree person) yang disederhanakan dan di buatlebih mudah di pahami.dengan mengisi pilihan ganda yang tersedia dan menjadikan jawaban paling domain sebagai tolak ukur test.
Analisa kasus :
Berdasarkan definisi sistem informasi psikologi yaitu suatu sistem atau tata cara yang merupakan kombinasi dari manusia, contoh kasus di atas juga merupakan bagian dari sistem informasi psikologi alaupun dalam bentuk yang lebih di sederhanakan dan belum dapat dikatakan hasilnya dapat dijadikan tolak ukur psikologis kita. Dengan mengunakan test tersebut kita sudah melakukan pengumpulan, mengolah dan menyimpan data mengenai perilaku terlihat maupun tidak terlihat secara langsung serta proses mental yang terajadi pada manusia dan menggunakan sistem atau tata cara yang merupakan kombinasi dari manusia, fasilitas atau alat teknologi, media prosedur.

2.  Arsitektur computer dan struktur kognitif manusia
Pengertian arsitektur computer
Pengertian arsitektur komputer adalah dapat dikategorikan sebagai ilmu dan sekaligus sebagai suatu seni mengenai cara interkoneksi antara berbagai komponen perangkat keras atau hardware untuk dapat menciptakan sebuah komputer yang dapat memenuhi kebutuhan fungsional, kinerja, dan juga target biayanya.
Dalam bidang teknik komputer, definisi arsitektur komputer adalah suatu konsep perencanaan dan juga struktur pengoperasian dasar dari suatu sistem komputer atau ilmu yang bertujuan untuk perancangan sistem komputer.
Struktur kognisi manusia
Yaitu merupakan organisasi pengetahuan atau dengan kata lain bahwa struktur kognitif dapat disebut juga sebagai pengetahuan. Selain itu struktur kognitif manusia adalah proses berpikir yang terjadi pada setiap manusia sehingga memiliki control terhadap proses berpikirnya sendiri.
Kaitan antara struktur kognisi manusia dan arsitektur computer
Arsitektur komputer merupakan konsep perencanaan dan struktur pengoperasian dasar dari suatu sistem komputer, kompleks namun tidak sekompleks kognisi manusia. Berbeda dengan struktur kognisi manusia yang merupakan bagian atau komponen yang tersturktur dalam otak manusia yang memberi pengetahuan berdasarkan system , skema adaptasi, asimilasi dan akomodasi yang membentuk suatu kematangan dan pengalaman otak dalam menjalankan kehidupan sosial bagi seorang manusia yang mempunyai struktur yang kompleks.
Kelebihan dan Kekurangan dari Arsitektur Komputer yaitu :

Kelebihan :

a.       Memiliki processor yang berjumlah lebih dari satu
b.      Bias digunakan oleh banyak pengguna (multi user)
c.       Dapat membuka beberapa aplikasi dalam waktu bersamaan
d.      Kecepatan bekerja processornya hingga 1GOPS (Giga Operations Per Second)

Kekurangan :

a.       Dikarenakan ukurannya yang besar, maka diperlukan ruangan yang besar untuk       menyimpan
b.      Harganya yang sangat mahal
c.       Interface dengan pengguna masih menggunakan teks
d.      Membutuhkan daya listrik yang sangat besar
Kelebihan Dan Kekurangan Dari Struktur Kognitif Manusia yaitu :

Kelebihan :
a.       Struktur kognitif manusia lebih sistematis sehingga memiliki arah dan tujuan yang   
       jelas
b.      Banyak memberi motivasi agar terjadi proses belajar
c.       Mengoptimalisasikan kerja otak secara maksimal

Kekurangan :
a.       Membutuhkan waktu yang cukup lama
b.      Terkadang sulit mengaplikasikannya dikehidupan sehari-hari karena tergantung  
      individu masing-masing dalam mengoptimalkan cara berpikir mereka.
Contoh kasus:
Menurut saya struktur kognisi disini adalah yang dimiliki manusia jadi hubunganna dengan arsitektur computer menurut saya dimana manusia yang memerankan untuk menjalankan aplikasi computer tersebut untuk mengerjakan seraingkain tugas-tugas dengan menggunakan aplikasi computer, atau HRD yang sedang menghitung scoring dengan computer.
Sumber :
Al Fatta, Hanif. (2007). Analisis dan perancangan sistem informasi untuk keunggulan   
bersaing perusahaan dan organisasi modern. Yogyakarta: ANDI
Dakir. (1993). Dasar-dasar psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Hutahaean, J. (2014). Konsep sistem informasi. Yogyakarta: Deepublish..

Marimin., Tanjung, H., & Prabowo, H. (2006). Sistem informasi manajemen sumber
daya manusia. Jakarta: Grasindo.
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2012/03/analisa-perbedaan-struktur-kognisi-manusia-dan-arsitektur-komputer-2/

Jumat, 23 Januari 2015

Dinamika Kelompok dan Konflik Dalam Proses Manajemen (Psikologi Manajemen)



1.      Penjelasan mengenai peranan konflik dalam mengembangkan manajemen di perusahaan beserta keadaan dan penyelesaian contoh kasus secara nyata.

Analisa:
Menurut Wijono (2010), ketika orang mengalami frustasi yang belum terselesaikan dalam menjalani proses kehidupan, maka ia tidak mungkin dapat terlepas dari konflik. Namun, konflik dapat membuat seseorang mengalami perubahan-perubahan perilaku, yang seringkali mengganggu dan bahkan membuat seseorang mengalami stress. Tapi, di sisi lain konflik membuat orang menjadi tertantang untuk mengatasinya. Begitu pula sama halnya dalam sebuah organisasi dan manajemen dalam perusahaan. Konflik dapat berperan terhadap perusahaan dengan pengaruh negatif seperti menimbulkan emosi dan stres negatif, berkurangnya komunikasi yang digunakan sebagai persyaratan untuk koordinasi, dapat menimbulkan prasangka-prasangka negatif. Sedangkan pengaruh positif dari konflik tersebut seperti membawa masalah-masalah yang diabaikan sebelumnya secara terbuka, memotivasi orang lain untuk memahami setiap posisi orang lain, mendorong ide-ide baru, memfasiliasi perbaikan dan perubahan.
Untuk menghadapi konflik dalam mengembangkan manajemen di perusahaan, diperlukan adanya kerangka kerjasama secara khusus yang dapat digunakan untuk menganalisis adanya dinamika psikologis dan perilaku terjadinya konflik antar pribadi atau antara diri sendiri dengan orang lain dalam organisasi perusahan tersebut (Wijono, 2010).

Contoh Kasus:
Dalam sebuah bank X (perusahaan layanan jasa) di bagian pemasarannya, ada beberapa karyawan yang saling bertentangan karena ide-idenya tidak sama dalam menjaring nasabah bank tersebut. Kondisi dan situasi ini tentunya dapat menganggu interaksi diantara beberapa karyawan dan kedua belah pihak di perusahaan bank tersebut khususnya di bagian pemasaran.

Minggu, 09 November 2014

psikologi manajemen 2

MOTIVASI

Pengertian motivasi, motiv berasal dari bahasa latin movere yang berarti bergerak atau bahasa inggrisnya to move. motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat (driving force). jadi motivasi adalah keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku ke arah tujuan.berikut teori motivasi menurut beberapa ahli:

1. Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)
 
Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu:1.kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex. 2.kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual.3. kebutuhan akan kasih sayang (love needs). 4.kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status. 5.aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.



Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia merupakan individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan tetapi bersifat pskologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual.

Semakin banyaknya organisasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan makin mendalamnya pemahaman tentang unsur manusia dalam kehidupan organisasional, teori “klasik” Maslow semakin dipergunakan, bahkan dikatakan mengalami “koreksi”. Penyempurnaan atau “koreksi” tersebut terutama diarahkan pada konsep “hierarki kebutuhan “ yang dikemukakan oleh Maslow. Istilah “hierarki” dapat diartikan sebagai tingkatan. Atau secara analogi berarti anak tangga. Logikanya ialah bahwa menaiki suatu tangga berarti dimulai dengan anak tangga yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Jika konsep tersebut diaplikasikan pada pemuasan kebutuhan manusia, berarti seseorang tidak akan berusaha memuaskan kebutuhan tingkat kedua,- dalam hal ini keamanan- sebelum kebutuhan tingkat pertama yaitu sandang, pangan, dan papan terpenuhi; yang ketiga tidak akan diusahakan pemuasan sebelum seseorang merasa aman, demikian pula seterusnya.

Jadi jika karyawan bekerja keras, dengan penuh semangat dan giat itu karena adanya motivasi untuk dapat memuaskan kebutuhan fisiologis, rasa aman, kasih sayang, kebutuhan harga diri dan aktualisasi diri yang dikemukakan oleh maslow akan hirerarki kebutuhan.

2. Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi)
 
Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan“Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit. Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi obyek-obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi yang berlaku. Mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil.” 
Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu:1.sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat. 2. menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain. 3.menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah. 

 
Menurut teori ini karyawan bisa mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi sehingga bisa mencapai keberhasilan untuk diri sendiri.

3.Teori Herzberg (Teori Dua Faktor)

Ilmuwan ketiga yang diakui telah memberikan kontribusi penting dalam pemahaman motivasi Herzberg. Teori yang dikembangkannya dikenal dengan “ Model Dua Faktor” dari motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau “pemeliharaan”.

Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang.

Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain. Sedangkan faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku.

Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik.

 KEPEMIMPINAN

1.Otokratik

Gaya Kepemimpinan Otokratik Menurut Sudarwan Danim kata otokratik diartikan sebagai tindakan menurut kemauan sendiri, setiap produk pemikiran dipandang benar, keras kepala, atau rasa aku yang keberterimaannya pada khalayak bersifat dipaksakan. Kepemimpinan otokratik disebut juga kepemimpinan otoriter.

Mifta Thoha mengartikan kepemimpinan otokratis sebagai gaya yang didasarkan atas kekuatan posisi dan penggunaan otoritas. Jadi kepemimpinan otokratik adalah kepemimpinan yang dilakukan oleh seorang pemimpin dengan sikapnya yang menang sendiri, tertutup terhadap saran dari orang lain dan memiliki idealisme tinggi. 


2.Demokratik

Kepemimpinan demokratik menitikberatkan pada bimbingan yang efisien pada para anggotanya. Koordinasi pekerjaan terjalin dengan baik dengan semua lini, terutama penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerja sama yang baik.

Kepemimpinan demokratik menghargai potensi setiap individu, mau mendengarkan nasehat dan sugesti bawahan, bersedia mengakui keahlian para sepesialis dengan bidangnya masing-masing, pada saat-saat kondisi yang tepat.
3.Permisif


pemimpin permisif merupakan pemimpin yang tidak mempunyai pendirian yang kuat, sikapnya serba boleh. Pemimpin memberikan kebebasan kepada bawahannya, sehingga bawahan tidak mempunyai pegangan yang kuat terhadap suatu permasalahan. Pemimpin yang permisif cenderung tidak konsisten terhadap apa yang dilakukan.

sumber :

http://jurnal.feunsika.ac.id/wp-content/uploads/2013/06/Pengaruh-Gaya-Kepemimpinan-Terhadap-Kinerja-Karyawan.pdf 
eprints.uny.ac.id/7829/3/BAB 2 - 08108241026.pdf

psikologi manajemen 2

MOTIVASI

Pengertian motivasi, motiv berasal dari bahasa latin movere yang berarti bergerak atau bahasa inggrisnya to move. motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat (driving force). jadi motivasi adalah keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku ke arah tujuan.berikut teori motivasi menurut beberapa ahli:

1. Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)
 
Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu:1.kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex. 2.kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual.3. kebutuhan akan kasih sayang (love needs). 4.kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status. 5.aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.



Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia merupakan individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan tetapi bersifat pskologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual.

Semakin banyaknya organisasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan makin mendalamnya pemahaman tentang unsur manusia dalam kehidupan organisasional, teori “klasik” Maslow semakin dipergunakan, bahkan dikatakan mengalami “koreksi”. Penyempurnaan atau “koreksi” tersebut terutama diarahkan pada konsep “hierarki kebutuhan “ yang dikemukakan oleh Maslow. Istilah “hierarki” dapat diartikan sebagai tingkatan. Atau secara analogi berarti anak tangga. Logikanya ialah bahwa menaiki suatu tangga berarti dimulai dengan anak tangga yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Jika konsep tersebut diaplikasikan pada pemuasan kebutuhan manusia, berarti seseorang tidak akan berusaha memuaskan kebutuhan tingkat kedua,- dalam hal ini keamanan- sebelum kebutuhan tingkat pertama yaitu sandang, pangan, dan papan terpenuhi; yang ketiga tidak akan diusahakan pemuasan sebelum seseorang merasa aman, demikian pula seterusnya.

Jadi jika karyawan bekerja keras, dengan penuh semangat dan giat itu karena adanya motivasi untuk dapat memuaskan kebutuhan fisiologis, rasa aman, kasih sayang, kebutuhan harga diri dan aktualisasi diri yang dikemukakan oleh maslow akan hirerarki kebutuhan.

2. Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi)
 
Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan“Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit. Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi obyek-obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi yang berlaku. Mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil.” 
Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu:1.sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat. 2. menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain. 3.menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah. 

 
Menurut teori ini karyawan bisa mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi sehingga bisa mencapai keberhasilan untuk diri sendiri.

3.Teori Herzberg (Teori Dua Faktor)

Ilmuwan ketiga yang diakui telah memberikan kontribusi penting dalam pemahaman motivasi Herzberg. Teori yang dikembangkannya dikenal dengan “ Model Dua Faktor” dari motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau “pemeliharaan”.

Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang.

Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain. Sedangkan faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku.

Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik.

 KEPEMIMPINAN

1.Otokratik

Gaya Kepemimpinan Otokratik Menurut Sudarwan Danim kata otokratik diartikan sebagai tindakan menurut kemauan sendiri, setiap produk pemikiran dipandang benar, keras kepala, atau rasa aku yang keberterimaannya pada khalayak bersifat dipaksakan. Kepemimpinan otokratik disebut juga kepemimpinan otoriter.

Mifta Thoha mengartikan kepemimpinan otokratis sebagai gaya yang didasarkan atas kekuatan posisi dan penggunaan otoritas. Jadi kepemimpinan otokratik adalah kepemimpinan yang dilakukan oleh seorang pemimpin dengan sikapnya yang menang sendiri, tertutup terhadap saran dari orang lain dan memiliki idealisme tinggi. 


2.Demokratik

Kepemimpinan demokratik menitikberatkan pada bimbingan yang efisien pada para anggotanya. Koordinasi pekerjaan terjalin dengan baik dengan semua lini, terutama penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerja sama yang baik.

Kepemimpinan demokratik menghargai potensi setiap individu, mau mendengarkan nasehat dan sugesti bawahan, bersedia mengakui keahlian para sepesialis dengan bidangnya masing-masing, pada saat-saat kondisi yang tepat.
3.Permisif


pemimpin permisif merupakan pemimpin yang tidak mempunyai pendirian yang kuat, sikapnya serba boleh. Pemimpin memberikan kebebasan kepada bawahannya, sehingga bawahan tidak mempunyai pegangan yang kuat terhadap suatu permasalahan. Pemimpin yang permisif cenderung tidak konsisten terhadap apa yang dilakukan.

sumber :

http://jurnal.feunsika.ac.id/wp-content/uploads/2013/06/Pengaruh-Gaya-Kepemimpinan-Terhadap-Kinerja-Karyawan.pdf 
eprints.uny.ac.id/7829/3/BAB 2 - 08108241026.pdf

PSIKOLOGI MANAGEMENT 2

MOTIVASI

Pengertian motivasi, motiv berasal dari bahasa latin movere yang berarti bergerak atau bahasa inggrisnya to move. motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat (driving force). jadi motivasi adalah keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku ke arah tujuan.berikut teori motivasi menurut beberapa ahli:

1. Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)
 
Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu:1.kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex. 2.kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual.3. kebutuhan akan kasih sayang (love needs). 4.kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status. 5.aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.



Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia merupakan individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan tetapi bersifat pskologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual.

Semakin banyaknya organisasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan makin mendalamnya pemahaman tentang unsur manusia dalam kehidupan organisasional, teori “klasik” Maslow semakin dipergunakan, bahkan dikatakan mengalami “koreksi”. Penyempurnaan atau “koreksi” tersebut terutama diarahkan pada konsep “hierarki kebutuhan “ yang dikemukakan oleh Maslow. Istilah “hierarki” dapat diartikan sebagai tingkatan. Atau secara analogi berarti anak tangga. Logikanya ialah bahwa menaiki suatu tangga berarti dimulai dengan anak tangga yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Jika konsep tersebut diaplikasikan pada pemuasan kebutuhan manusia, berarti seseorang tidak akan berusaha memuaskan kebutuhan tingkat kedua,- dalam hal ini keamanan- sebelum kebutuhan tingkat pertama yaitu sandang, pangan, dan papan terpenuhi; yang ketiga tidak akan diusahakan pemuasan sebelum seseorang merasa aman, demikian pula seterusnya.

Jadi jika karyawan bekerja keras, dengan penuh semangat dan giat itu karena adanya motivasi untuk dapat memuaskan kebutuhan fisiologis, rasa aman, kasih sayang, kebutuhan harga diri dan aktualisasi diri yang dikemukakan oleh maslow akan hirerarki kebutuhan.

2. Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi)
 
Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan“Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit. Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi obyek-obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi yang berlaku. Mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil.” 
Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu:1.sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat. 2. menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain. 3.menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah. 

 
Menurut teori ini karyawan bisa mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi sehingga bisa mencapai keberhasilan untuk diri sendiri.

3.Teori Herzberg (Teori Dua Faktor)

Ilmuwan ketiga yang diakui telah memberikan kontribusi penting dalam pemahaman motivasi Herzberg. Teori yang dikembangkannya dikenal dengan “ Model Dua Faktor” dari motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau “pemeliharaan”.

Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang.

Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain. Sedangkan faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku.

Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik.

 KEPEMIMPINAN

1.Otokratik

Gaya Kepemimpinan Otokratik Menurut Sudarwan Danim kata otokratik diartikan sebagai tindakan menurut kemauan sendiri, setiap produk pemikiran dipandang benar, keras kepala, atau rasa aku yang keberterimaannya pada khalayak bersifat dipaksakan. Kepemimpinan otokratik disebut juga kepemimpinan otoriter.

Mifta Thoha mengartikan kepemimpinan otokratis sebagai gaya yang didasarkan atas kekuatan posisi dan penggunaan otoritas. Jadi kepemimpinan otokratik adalah kepemimpinan yang dilakukan oleh seorang pemimpin dengan sikapnya yang menang sendiri, tertutup terhadap saran dari orang lain dan memiliki idealisme tinggi. 



2.Demokratik

Kepemimpinan demokratik menitikberatkan pada bimbingan yang efisien pada para anggotanya. Koordinasi pekerjaan terjalin dengan baik dengan semua lini, terutama penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerja sama yang baik.

Kepemimpinan demokratik menghargai potensi setiap individu, mau mendengarkan nasehat dan sugesti bawahan, bersedia mengakui keahlian para sepesialis dengan bidangnya masing-masing, pada saat-saat kondisi yang tepat.

3.Permisif


pemimpin permisif merupakan pemimpin yang tidak mempunyai pendirian yang kuat, sikapnya serba boleh. Pemimpin memberikan kebebasan kepada bawahannya, sehingga bawahan tidak mempunyai pegangan yang kuat terhadap suatu permasalahan. Pemimpin yang permisif cenderung tidak konsisten terhadap apa yang dilakukan.


sumber :


http://jurnal.feunsika.ac.id/wp-content/uploads/2013/06/Pengaruh-Gaya-Kepemimpinan-Terhadap-Kinerja-Karyawan.pdf 
eprints.uny.ac.id/7829/3/BAB 2 - 08108241026.pdf